Kata kebudayaan berasal dari kata
budh—> budhi—> budhaya dalam bahasa sansekerta yang berarti akal,
sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. Ada
pendapat yang mengatakan bahwa kebudayaan yang berasal dari kata budi dan daya.
Budi adalah akal yang merupakan unsure rohani dalam kebudayaan, sedangkan daya
berarti perbuatan atau ikhtiar sebagai unsure jasmani, sehingga kebudayaan
diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar manusia (supartono, 2001;
Prasetya, 1998)
Budaya merupakan suatu kebiasaan yang mengandung
nilai – nilai penting dan fundamental yang diwariskan dari generasi ke
generasi. Warisan tersebut harus dijaga agar tidak luntur atau hilang sehingga
dapat dipelajari dan dilestarikan oleh generasi berikutnya. Budaya secara umum
dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
1.
Budaya
Daerah adalah suatu kebiasaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang
diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi
berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat
penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama
sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk –
penduduk yang lain. Budaya daerah sendiri mulai terlihat berkembang di
Indonesia pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu.
2.
Budaya Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara
tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi
dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi
kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar
negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah
Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di
Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan
pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap
dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.
a. Budaya itu beraneka ragam.
b. Budaya itu diteruskan melalui proses belajar.
c. Budaya itu terjabarkan dari komponen biologi, psikologi, sosiologi, dan eksistensi manusia.
d. Budaya itu berstruktur.
e. Budaya itu terbagi dalam aspek-aspek.
f. Budaya itu dinamis.
g. Nilai-nilai dalam budaya itu relative
Unsur –unsur Budaya
Suatu kebudayaan tidak akan pernah ada tanpa adanya beberapa sistem yang mendukung terbentuknya suatu kebudayaan, sistem ini kemudian disebut sebagai unsur yang membentuk sebuah budaya, mulai dari bahasa, pengetahuan, tekhnologi dan lain lain. semua itu adalah faktor penting yang harus dimiliki oleh setiap kebudayaan untuk menunjukkan eksistensi mereka.
1. Sistem kepercayaan
Sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia, maka masyarakat Indonesia
sebelum adanya pengaruh Hindu-Buddha juga telah mempercayai adanya kekuatan di
luar diri mereka. Hal ini juga tidak terlepas dari kehidupan mereka yang
berladang dan bersawah. Kehidupan ini hanya dapat berjalan dalam masyarakat
yang sudah teratur, yang telah mengetahui hak dan kewajibannya. Ini berarti
telah ada organisasi dan yang menjadi pusat organisasi ialah desa dan ada
aturan-aturan yang harus dipatuhi bersama. Dalam suasana untuk saling memahami,
saling menghargai, tolong menolong dan bertanggung jawab, maka muncullah faktor
baru, yakni pemimpin (ketua desa/datuk). Yang memegang pimpinan adalah ketua
adat, yang dianggap memiliki kelebihan dari yang lain. Ia harus melindungi
anggotanya dari serangan kelompok lain, atau ancaman binatang buas sehingga
tercipta kemakmuran, kesejahteraan dan ketentraman. Pemimpin bekerja untuk
kepentingan seluruh desa, maka masyarakat berhutang budi kepada pemimpinnya.
Sifat kerja sama antara rakyat dan pemimpinnya membentuk persatuan yang kuat,
memunculkan kepercayaan, yakni memuja roh nenek moyang, memuja roh jahat dan
roh baik bahkan mereka percaya bahwa tiap-tiap benda memiliki roh. Dengan
demikian muncullah Animisme, Dinamisme, dan Totemisme.
a. Animisme
kepercayaan yang memuja arwah dari nenek moyang
b. Dinamisme
kepercayaan bahwa pada benda-benda tertentu baik benda hidup atau mati bahkan juga benda-benda ciptaan (seperti tombak dan keris) mempunyai kekuatan gaib dan dianggap bersifat suci.
c. Totemisme
kepercayaan menghormati binatang-binatang tertentu untuk dipuja dan dianggapnya seketurunan
2. Sistem kemasyarakatan atau
organisasi social
Pada masa berburu dan mengumpulkan
makanan,masyarakatnya hidup berkelompok-kelompok dalam jumlah yang kecil.
Tetapi hubungan antara kelompoknya sudah erat karena mereka harus bersama-sama
menghadapi kondisi alam yang berat,sehingga system kemasyarakatan yang muncul
saat itu sangat sederhana.
Tetapi pada masa bercocok tanam,kehidupan masyarakat yang sudah menetap semakin
mengalami perkembangan dan hal inilah mendorong masyarakat untuk membentuk
keteraturan hidup.
Selanjutnya sistem kemasyarakatan terus mengalami perkembangan khususnya pada
masa perundagian. Karna pada masa ini kehidupan masyarakat lebih kompleks.
Masyarakat terbagi-bagi menjadi kelompok-kelompok sesuai bidang keahliannya.
3. Sistem pengetahuan
Sejak zaman Neolithikum, masyarakat Indonesia telah mengenal
pengetahuan yang tinggi, dimana masyarakat telah dapat memanfaatkan angin musim
sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran juga
mengenal astronomi atau ilmu perbintangan sebagai petunjuk arah pelayaran atau
sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian.
Selain berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, juga dikenal oleh masyarakat
prasejarah terutama pada zaman perundagian, yaitu teknologi pengecoran logam
sehingga pada masa perundagian masyarakat sudah mampu menghasilkan alat-alat
kehidupan yang terbuat dari logam.
4. Bahasa
yaitu suatu sistem perlambangan yang
secara arbitrel dibentuk atas unsur – unsur bunyi ucapan manusia yang digunakan
sebagai gagasan sarana interaksi
5. Kesenian
Kesenian dikenal oleh masyarakat prasejarah pada zaman
mesolithikum yang dibuktikan dengan adanya lukisan-lukisan pada dinding-dinding
gua. Untuk selanjutnya kesenian mengalami perkembangan yang pesat pada zaman
neolithikum, karena pada masa bercocok tanam terdapat waktu senggang dari
menanam hingga panen. Yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyalurkan jiwa
seni, dari seni membatik, gamelan, bahkan wayang.
6. Sistem mata pencaharian hidup
Masa Berburu dan Mengumpulkan
Makanan
Pada masa ini secara fisik manusia masih terbatas usahanya dalam
menghadapikondisi alam. Tingkat berpikir manusia yang masih rendah menyebabkan
hidupnya berpindah-pindah tempat dan menggantungkan hidupnya kepada alam dengan
cara berburu dan mengumpulkan makanan.
Masa Bercocok Tanam
Pada masa ini kemampuan berpikir manusia mulai berkembang. Sehingga timbul
upaya menyiapkan persediaan bahan makanan yang cukup dalam suatu masa tertentu.
Dari upaya tersebut maka manusia bercocok tanam dan tidak lagi tergantung
kepada alam.
Masa Perundagian
Pada masa ini masyarakat sudah mengenal teknik-teknik pengolahan logam.
Pengolahan logam memerlukan suatu tempat serta keahlian khusus. Tempat untuk
mengolah logam dikenal dengan nama perundagian dan orang yang ahli
mengerjakannya dikenal dengan sebutan Undagi.
7. Sistem peralatan hidup
Zaman Batu
Zaman batu adalah suatu periode ketika peralatan hidup manusia secara dominan
terbuat dari batu, Zaman batu terbagi atas zaman batu tua, zaman batu madya,
zaman batu baru, dan zaman batu besar.
a. Zaman Batu Tua (Paleolithikum)
- Kapak genggam atau kapak perimbas berfungsi untuk menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang. Kapak perimbas berfungsi untuk merimbas kayu, memecah tulang, dan sebagai senjata,
- Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek, dan tombak.
- Alat serpih (flakes) Biasanya digunakan untuk mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan.
b. Zaman Batu Madya (Mesolithikum)
Pada zaman ini alat-alat dari batu sudah mulai digosok,
tetapi belum halus.
- Kapak Sumatra (pebble).
- Batu Pipisan digunakan untuk menggiling makanan, menghaluskan cat merah (seperti Nampak dari bekas-bekasnya).
- Kjokkenmoddinger adalah sampah daur (bahasa Denmark) kjokken = dapur, modding = sampah. Sampah ini berwujud kulit siput dan kerang yang menumpuk ribuan tahun sehingga membentuk bukit, tingginnya karang-karang mencapai 7 meter dan sudah menjadi fosil
- Abris Sous Roche adalah tempat tinggal zaman prasejarah yang berwujud goa-goa dan ceruk-ceruk di dalam batu karang untuk berlindung. Dari goa ini berhasil ditemukan beberapa artefak atau peninggalan prasejarah, misalnya: flakes, ujung anak panah, alat-alat dari tulang , tanduk rusa, alat-alat dari perunggu dan besi juga fosil dari manusia Papua Melanesoid.
c. Zaman Batu Baru (Neolithikum)
Pada zaman neolithikum, peralatan dari batu sudah digosok
halus karena mereka sudah mengenal teknik mengasah dan mengupam. Peralatan itu
antara lain sebagai berikut.
- Kapak persegi untuk mengerjakan kayu.
- Kapak bahu adalah kapak persegi, namun pada tangkai diberi “leher” sehingga menyerupai bentuk botol persegi.
- Kapak lonjong adalah kapak dengan penampang berbentuk lonjong atau bulat telur. Kapak lonjong banyak disebut sebagai kapak Irian karena banyak ditemukan di Irian (Papua).
Adapun benda-benda lain dari zaman neolithikum adalah sebagai berikut.
- Perhiasan ,
- Tembikar
- Pakaian
d. Zaman Batu Besar (Megalithikum)
- Menhir, digunakan sebagai media untuk pemujaan terhadap roh nenek moyang.
- Dolmen digunakan untuk meletakkan sesajian dan pemujaan kepada nenek moyang. Ada pula sebagai tempat menguburkan mayat.
- Sarkofagus atau Keranda merupakan peti mayat yang terbuat dari batu.
- Kubur batu, adalah peti mayat dari batu,
- Punden berundak, digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang.
- Waruga, yaitu kubur batu yang berbentukkubus atau bulat. Bangunan ini terbuat dari batu besar yang utuh.
- Arca atau patung yaitu bangunan yang terbuat dari batu besar berbentuk binatang atau manusia yang melsmbsngkan nenek moyang serta dipuja-puja.
2. Zaman Logam (Perundagian)
Pada
zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur
logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya.
a. Zaman
tembaga
b. Zaman
perunggu
c. Zaman
besi
Argumen
Budaya merupakan warisan turun
temurun dari nenek moyang kita yang harus kita pelajari dan lestarikan, sebelum
kita menjaga dan melestarikannya kita harus mencintai kebudayaan kita,kebanyakan
dari kita mempelajari budaya lain yang sebenarnya bukan budaya kita, karena
kurang rasa cinta terhadap budayalah banyak negara yang mengakui budaya
Indonesia.
Cara untuk mempopulerkan kembali unsur-unsur
budaya di Indonesia menurut saya yaitu menggunakan jejaring sosial salah
satunya, karena pada zaman modern ini hampir semua orang sudah mengenal
jejaring sosial, dengan jejaring sosial itulah kita mempopulerkan kembali unsur-unsur
budaya di Indonesia, seperti keseniannya, tempat wisata, bahasa, serta
sejarah-sejarah kuno Indonesia.
Kesimpulan
Banyak unsur yang terkandung dalam
budaya , dan mengalami perkembangan dan perubahan sampai sekarang ini, manusia
sangat erat kaitannya dengan budaya karena manusia tidak bisa terpisahkan dari
budaya.
Kita sebagai warga Indonesia harus
lebih mengetahui dan mempelajari unsur-unsur budaya kita sendiri , jika kita tidak
mempelajari atau mengetahui tentang unsur budaya kita sendiri , budaya kita
akan mudah di akui oleh Negara lain.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar