Rabu, 26 Juli 2017

TUGAS KONSERVASI ARSITEKTUR



KONSERVASI BANGUNAN BERSEJARAH
(Studi Kasus Stasiun Jakarta Kota)

Wini Yulli Anisah (29313336)
4TB03

ABSTRAK
Kota tua sudah ditetapkan menjadi cagarbudaya oleh pemerintah setempat terutama kawasan stasiun Jakarta kota (beos), Bangunan bersejarah itu ada yang berubah secara fungsi, ada yang tetap, adapula yang mengalami renovasi baik secara arsitektur ataupun secara konsep bangunan. Mengingat konservasi suatu bangunan bersejarah itu sanat penting maka dengan alasan tersebut penulis membuat tugas penulisan ini untuk mengidentifikasi tingkat pemugaran di setiap bangunan di kawasan stasiun Jakarta kota (BEOS).
Kata Kunci : Kota tua, Sejarah, Konservasi
PENDAHULUAN
Stasiun Jakarta Kota atau yang dulunya lebih dikenal dengan nama Batavia Zuid atau stasiun Beos, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada sudah ditetapkan menjadi cagarbudaya oleh pemerintah setempat.  Disana banyak terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang beradapa di sekitar stasiun Jakarta Kota diantaranya yang masuk ke dalam daftar cagar budaya adalah : Gedung bank Mandiri Kanwil III, BNI 46, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Gedung PT. Kerta niaga, Gedung Platoon, PT. Asuransi Jasindo, Hotel Beverly hill, dan tentunya stasiun Jakarta kota itu sendiri yang biasa disebut stasiun BEOS.
Diantara Bangunan bersejarah itu ada yang berubah secara fungsi, ada yang tetap, adapula yang mengalami renovasi baik secara arsitektur ataupun secara konsep bangunan. Tenu dalam menentukan hal tersebut harus melalui beberapa analisa terlebih dahulu, yang pertama mengacu kepada teori-teori yang ada untuk mentukan kelas bangunan dan tingkat pemugaran, selanjutnya mencari sejarah bangunan tersebut baik arsitekturnya ataupun fungsi dari bangunan tersebut dimasa lalu. Langkah terakhir adalah pemugaran dengan mengacu kepada teori dan aturan yang ada.
Mengingat konservasi suatu bangunan bersejarah itu sanat penting maka dengan alasan tersebut penulis membuat tugas penulisan ini untuk mengidentifikasi tingkat pemugaran di setiap bangunan di kawasan stasiun Jakarta kota (BEOS).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode historis, yaitu suatu metode penelitian yang khusus digunakan dalam penelitian sejarah dengan melalui tahapan tertentu. Penerapan metode historis ini menempuh tahapan-tahapan kerja, sebagaimana yang dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto (1984:17) sebagai berikut:
• Heuristik, yakni menghimpun jejak-jejak masa lampau.
• Kritik (sedjarah), yakni menyelidiki apakah jejak itu sejati baik bentuk maupun isinya.
• Interpretasi, yakni menetapkan makna dan saling berhubungan dari fakta yang diperoleh sejarah itu.
•Historiografi,yakni menyampaikan sintesa yang diperoleh dalam bentuk sebuah kisah. Variabel penelitian adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian dalam suatu penelitian (Suharsimi Arikunto, 2002:91). Dari pengertian mengenai variabel dapat penulis tuliskan bahwa variabel merupakan satu langkah yang dipergunakan dalam penulisan sejarah terkait.
Adapun cara atau teknik yang akan digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitiannya adalah sebagai berikut :
Teknik kepustakaan yaitu suatu cara pengumpulan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruang kepustakaan misalnya majalah- majalah, catatan-catatan, koran, dokumen, kisah sejarah dan sebagainya yang relevan dengan penelitian (Koentjaraningrat, 1983:420).
Teknik Dokumentasi yaitu merupakan cara mengumpulkan data peninggalan-peninggalan tertulis yang berupa arsip-arsip dan juga buku-buku pendapat, teori, dalil, atau hukum lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (Hadari Nawawi, 1993:133).
Teknik Interview atau yang dikenal sebagai teknik di dalam mewawancarai narasumber, merupakan suatu teknik sederhana yang dimana proses tersebut dilakukan dengan melakukan tanya jawab secara langsung kepada narasumber, saksi atau pelaku yang memiliki informasi mengenai keterkaitannya dengan suatu masalah yang hendak diteliti oleh peneliti.
Teknik Analisis data adalah proses penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan (Masri Singarimbun, 1995:263). Menurut Muhammad Ali analisa data kualitatif adalah : menggunakan proses berfikir induktif, untuk menguji hipotesis yang merumuskan sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti, induktif dalam hal ini diperoleh dari beberapa identifikasi (Muhammad Ali, 1985:155). Tahapan-tahapan dalam proses analisis data kualitatif meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data.
Penarikan Kesimpulan adalah hasil mencari hubungan antara berbagai penemuan ilmiah yang dibuat berdasarkan hipotesis yang dirumuskan (Muhammad Ali, 1985:152).
HASIL PEMBAHASAN
Gambaran Umum Daerah Peneletian
Stasiun Beos/ Stasiun Kota merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental yang keindahannya dapat dilihat dari bentuk atap dan bentuk pilar – pilar pintu utama pada sisi kiri, kanan, dan depan bangunan, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana namun mengandung unsur seni yang tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan. Seiring dengan perkembangan zaman, bangunan Stasiun Kota ini sendiri semakin terusik/ tertutupi dengan kepadatan bangunan di kota Jakarta sebagai dampak dari lajunya pertumbuhan kota yang kurang terkendali. Belum lagi kondisi bangunannya yang kurang terawat dengan baik sehingga hanya terlihat sebagai bangunan tua yang masih layak pakai. Sedangkan jika ditelusuri lebih jauh, bangunan Stasiun Kota ini sendiri sebenarnya sudah ditetapkan dalam peraturan pemerintah DKI Jakarta sebagai bangunan cagar budaya yang umumnya bisa digunakan untuk menarik kunjungan wisata baik dari dalam maupun luar negeri untuk menyimak kembali bagaimana perjalanan perkembangan kota Jakarta sejak zaman colonial hingga sekarang ini.

Kriteria Bangunan Kuno
Kriteria tersebut sesuai dengan Pasal 8 Perda DKI Jakarta No. 9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya, penentuan bangunan cagar budaya ditetapkan berdasarkan kriteria sebagai berikut:
  • Sejarah
  • Umur
  • Keaslian
  • Kelangkaan

Tipologi Bangunan Kuno
Di Indonesia sendiri, terutama di daerah Jakarta dan sekitarnya, bangunanbangunan yang memenuhi kriteria sebagai bangunan kuno dan bersejarah yang harus dilestarikan jumlahnya tidak sedikit dengan berbagai macam tipologi. Berdasarkan sejarah perkembangan arsitektur yanga ada di Indonesia, tipologi bangunan-bangunan tersebut dapat dibagi menjadi berikut (Kemas Ridwan, 5 Maret 2009):
1.    Bangunan masyarakat Kolonial Eropa
  • Bangunan periode VOC (abad XVI-XVII), arsitektur periode pertengahan Eropa. Ciri-ciri bangunan ini adalah kesan tertutup, sedikit bukaan, jendela besar tanpa tritisan, tanpa serambi.
  • Bangunan periode negara kolonial (Neo Klasik Eropa). Ciri-ciri bangunan ini adalah atap-atap tritisan, veranda dan jendela- jendela krepyak
  • Bangunan modern kolonial (abad XX) Ciri-ciri bangunan ini adalah bergaya Art Deco dan Art Nouveau.
1.      Bangunan masyarakat China.
Ciri-ciri bangunan ini adalah berupa shop houses bergaya Cina Selatan, terletak di sekitar core inti wilayah utama suatu daerah. Contohnya: bangunan klenteng yang ada di Petak 9 di daerah Glodok.
2.    Bangunan masyarakat pribumi.
Ciri-ciri bangunan ini adalah berada di luar benteng, berupa rumah panggung namun ada juga yang langsung menyentuh lantai, menggunakan bahan-bahan alami. Saat ini bangunan dengan tipologi sudah banyak yang punah. D. Bangunan modern Indonesia.
Ciri-ciri bangunan ini adalah bergaya Internasional Style. Contohnya: Gedung BNI 46 yang berada di dekat Stasiun Kota
Kriteria, Tolak Ukur Dan Penggolongan Benda Cagar Budaya
Berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta no 9 tahun 1999 bab IV, dijabarkan tolok ukur kriteria sebuah bangunan cagar budaya adalah:
1.      Tolok ukur nilai sejarah dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa perjuangan, ketokohan, politik, sosial, budaya yang menjadi symbol nilai kesejarahan pada tingkat nasional dan atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
2.      Tolok ukur umur dikaitkan dengan usia sekurang-kurangnya 50 tahun.
3.      Tolok ukur keaslian dikaitkan dengan keutuhan baik sarana dan prasarana lingkungan maupun struktur, material, tapak bangunan dan bangunan di dalamnya.
4.      Tolok ukur tengeran atau landmark dikaitkan dengan keberadaaan sebuah bangunan tunggal monument atau bentang alam yang dijadikan symbol dan wakil dari suatu lingkungan sehingga merupakan tanda atau tengeran lingkungan tersebut.
5.      Tolok ukur arsitektur dikaitkan dengan estetika dan rancangan yang menggambarkan suatu zaman dan gaya tertentu.
Dari kriteria dan tolok ukur di atas lingkungan cagar budaya diklasifikasikan dalam 3 golongan, yakni:
1.      Golongan I: lingkungan yang memenuhi seluruh kriteria, termasuk yang mengalami sedikit perubahan tetapi masih memiliki tingkat keaslian yang utuh.
2.      Golongan II: lingkungan yang hanya memenuhi 3 kriteria, telah mengalami perubahan namun masih memiliki beberapa unsur keaslian.
3.      Golongan III: lingkungan yang hanya memenuhi 3 kriteria, yang telah banyak perubahan dan kurang mempunyai keaslian.

Klasifikasi Bangunan Cagar Budaya Di Indonesia
Berdasarkan Perda DKI Jakarta No.9/ 1999 Pasal 10 ayat 1, bangunan cagar budaya dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
Golongan A  Pemugaran bangunan pada golongan ini merupakan upaya preservasi berdasarkan ketentuan sebagai berikut (Perda DKI Jakarta no.9/ 1999 Pasal 19):
1.      Bangunan dilarang dibongkar dan atau diubah
2.      Apabila kondisi bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya
3.      Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan yang sama/ sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan detail ornamen bangunan yang telah ada
4.      Dalam upaya revitalisasi dimungkinkan adanya penyesuaian/ perubahan fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya
Golongan B  Pemugaran bangunan golongan ini merupakan upaya preservasi dengan ketentuan sebagai berikut (Perda DKI Jakarta no.9/ 1999 Pasal 20):
1.      Bangunan dilarang dibongkar secara sengaja dan apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya
2.      Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus dilakukan tanpa mengubah pola tampak depan, atap dan warna, serta dengan mempertahankan detail dan ornamen bangunan yang penting
3.      Dalam upaya rehabilitasi dan revitalisasi dimungkinkan adanya perubahan tata ruang dalam asalkan tidak mengubah struktur utama bangunan
4.      Di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi suatu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama.

Golongan C  Pemugaran bangunan golongan ini merupakan upaya rekonstruksi dan adaptasi dengan ketentuan sebagai berikut (Perda DKI Jakarta no.9/ 1999 Pasal 21):
1.      Perubahan bangunan dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan pola tampak muka, arsitektur utama dan bentuk atap bangunan
2.      Detail 7rnament dan bahan bangunan disesuaikan dengan arsitektur bangunan disekitarnya dalam keserasian lingkungan
3.      Penambahan bangunan di dalam perpetakan atau persil hanya dapat dilakukan di belakang bangunan cagar budaya yang harus sesuai dengan arsitektur bangunan cagar budaya dalam keserasian lingkungan
4.      Fungsi bangunan dapat diubah sesuai dengan rencana kota.

PEMBAHASAN
Stasiun Jakarta Kota
Stasiun Jakarta Kota dikenal pula dengan sebutan Stasiun Beos. Walaupun stasiun ini dinamakan “Stasiun Jakarta Kota” dari semenjak berdiri, tetapi stasiun ini lebih dikenal dengan sebutan “Stasiun Kota”. Nama “Stasiun Kota” juga dapat merujuk kepada Stasiun Surabaya Kota.
Keberadaannya pada saat ini diperdebatkan karena hendak direnovasi dengan penambahan ruang komersial. Padahal, stasiun ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, selain bangunannya kuno, stasiun ini merupakan stasiun tujuan terakhir perjalanan. Seperti halnya Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut di Surabaya yang merupakan cagar budaya, namun juga terjadi renovasi yang dinilai kontroversial.
Yang pertama, Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi lain, Beos berasal dari kataBatavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, yang berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java(Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.
Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung 8 September1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Hein von Essen dan F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta.
Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi




 

















Stasiun Jakarta Kota Masa Lalu
Sumber : pelamonia.blogspot.co.id,2012

Stasiun Jakarta Kota Masa Kini
Stasun Jakarta Kota akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI JakartaNo. 475 tahun 1993. Walau masih berfungsi, di sana-sini terlihat sudut-sudut yang kurang terawat. Keberadaannya pun mulai terusik dengan adanya kabar mau dibangun mal di atas bangunan stasiun. Demikian pula kebersihannya yang kurang terawat, sampah beresrakan di rel-rel kereta. Selain itu, banyak orang yang tinggal di samping kiri kanan rel di dekat stasiun mengurangi nilai estetika stasiun kebanggaan ini. Kini Pihak KAI melalui Unit Pelestarian Benda dan bangunan bersejarah telah mulai menata stasiun bersejarah ini
Konsep Perencanaan Konservasi
Eksterior :
Menggunakan karakter kota tua / kota lama sebagai daya tarik untuk memberikan nilai tambah pada bangunan Stasiun Jakarta Kota.
Mempermudah pencapaian ke dalam kawasan, menata sirkulasi kendaraan, dan pejalan kaki di dalam kawasan, serta menyediakan sarana parkir yang mampu memenuhi kebutuhan aktivitas pengunjung pada kawasan di sekitar bangunan Stasiun Jakarta Kota.
Menata kembali system peragangan kaki lima yang berada di sekitar bangunan agar terlihat lebih rapi dan bersih.
Pengadaan kembali kawasan – kawasan hijau di sekitar lokasi seperti taman dan sejenisnya sebagai sarana penunjang dan nilai tambah dari bangunan.
Pengolahan fasad yang lebih menarik dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya, penertiban bagian – bagian fasilitas bangunan yang mencederai fasad bangunan sebagai bagian dari usaha mempertahankan jejak sejarah di kawasan Stasiun Jakarta Kota dan sekitarnya.
Penataan kebersihan dan keamanan di sekitar bangunan juga sangat dibutuhkan untuk memperlihatkan nilai sejarah dari sisi eksterior bagunan.
Interior :
Penertiban kegiatan penjualan di dalam Stasiun sangat dibutuhkan guna menjaga kebersihan dan kenyamanan penggunan stasiun.
Pengaturan tata tertib di dalam stasiun juga sangat dianjurkan untuk menjaga ketertiban pengguna KRL sekaligus menciptakan pemandangan yang suasan yang nyaman di dalam stasiun.
Khusus untuk bagian – bagian stasiun yang telah termakan usia atau yang tidak terurus, dianjurkan untuk melakukan perbaikan dan penataan kembali agar tidak menimbulkan pemandangan atau suasana yang mengganggu.
Pengadaan fasilitas – fasilitas seperti tempat duduk sangat dianjurkan untuk memberikan tempat istirahat sementara bagi para pengguna KRL yang menunggu kedatangan/ keberangkatan KRL.
Penyediaan fasilitas penyebrangan antar rel/ tempat pemberhentian kereta juga sangat perlu. Selain untuk mengurangi waktu dan jarak tempuh yang jauh karena harus kembali melalui jalur yang melalui dalam stasiun, juga mencegah terjadinya kecelakaan kereta yang disebabkan oleh aksi nekat para pengguna KRL yang menyebrang melalui jalur kereta.


Stasiun Jakarta Kota Masa Kini
Sumber : pelamonia.blogspot.co.id,2012


KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan dan analisis dari data-data dan teori yang ada, saya menyimpulkan bahwa di dalam pelaksanaan konservasi stasiun Kota Jakarta (BEOS) ini sangat mempertahankan fungsi yang ada sejak dahulu, hal ini dapat dibuktikan dari fungsinya yang masih sebagai stasiun induk kereta api. Secara arsitektur juga baik konsep, interior maupun eksterior tetap terjaga sebagai mana aslinya.

DAFTAR PUSTAKA
Pelamonia (2012). Konservasi Stasiun Jakarta Kota. From http://f-pelamonia.blogspot.co.id/2012/05/konservasi-stasiun-jakarta-kota.html, 2017.
e- jurnal (2017). Tinjauan Historis Kolonisasi di Metro. From http://www.e-jurnal.com/2017/05/tinjauan-historis-kolonisasi-di-metro.html, 2017
Filandrians (2016). Konservasi Arsitektur. From https://filandrians.wordpress.com/2016/06/07/konservasi-arsitektur/, 2017



Senin, 05 Juni 2017

TUGAS KONSERVASI ARSITEKTUR TULISAN 2

Koshino House karya Tadao Ando

   Menurut Siswono Yudohusodo (Rumah Rakyat untuk seluruh rakyat 1991,432) Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Fungsi lainnyayakni sebagai pelindung dari iklim dan makhluk hidup lainnya serta tempat awal pengembangn kehidupan. Bukan hanya itu, bagi saya rumah adalah tempat pulang terindah. Karena dirumah kita dapat melihat keluarga berkumpul bersama dan menikmati momen yang berharga. Dimana keluarga adalah bagian terpenting kedua setelah Tuhan.

   Bicara mengenai rumah, rumah yang baik kiranya memenuhi syarat, dimana kita tahu bangunan yang baik menurut Vitruvius harus memenuhi 3 sistem syarat yakni dari segi kekuatan (firmitas), fungsi (utilitas) dan juga keindahan (venustas). Namun tidak hanya itu, yang terpenting dari rumah adalah dampak terhadap penghuninya. Rumah tersebut memberi pengaruh apa terhadap penghuni di dalamnya. Sehigga terjadinya komunikasi antara penghuni dan rumah untuk saling terintegrasi.

   Bagi saya rumah tidak harus melihat dari faktor keindahannya saja setelah faktor kekuatan dan fungsi sudah terpenuhi, karna nyatanya saat ini faktor ekonomis juga dipikirkan. Banyak rumah yang di desain sedemikian rupa dan bahkan juga menggunakan bahan material yang berkualitas dengan harga yang cukup mahal. Namun itu semua tergantung si empunya rumah, karena keinginan dan kebutuhan setiap orang berbeda. Ada yang menyukai rumah klasik dengan detail-detail ornamennya, ada yang menyukai rumah dengan gaya minimalis yang lebih terlihat clean dan berkesan kekinian atau bahkan ada pula yang menyukai rumah tradisional untuk menghadirkan kesan alam yang kental.

   Lebih dari itu, ada sesuatu yang semestinya kita dapat dari suatu rumah, yakni soul (jiwa) yang hadir dari rumah tersebut. Dalam buku Wastu Citra, sesuatu yang benar itu indah. Begitulah ketika saya melihat Khosino House karya arsitek jepang Tadao Ando. Arsitek yang memiliki karakter pada bangunannya yakni dengan bentuknya yang lingkaran dan geometris, penggunaan beton (concrete) polos, pemanfaatan cahaya alami dan udara serta bentuk bangunan yang mengikuti landscape di sekitarnya. Dengan desain dari bentuk yang sederhana, tidak banyak ornamen namun berkarakter kuat, benar dan indah. Dan lebih dari itu saya melihat dan seakan merasakan ada jiwa di dalamnya.


   Dalam artikel yang saya baca, Khosino House adalah desain yang memiliki makna yang bisa berubah-ubah sesuai perubahan cahaya dan aliran udara (angin). Yang berari sang arsitek tidak hanya memabngun melainkan juga memikirkan konsep bangunanya secara matang.




   Mungkin menurut saya seprti itulah yang kita bisa dapatkan dari suatu rumah. Karena rumah memberikan pengaruh terhadap penghuninya.Dengan desain yang benar tentulah memunculkan sesuatu keindahan.

SUMBER :

http://oktavindah.blogspot.co.id/2014/01/tugas-kritik-arsitektur_29.html

TUGAS KONSERVASI ARSITEKTUR TULISAN 1

GREEN SCHOOL BALI

download (4).jpg

Gagasan tentang sebuah sekolah yang mengusung kehidupan ala kampung di Indonesia, itu ternyata mendapat dukungan dari masyarakat internasional. Tercatat illusionis internasional David Copperfield dan desainer dunia Donna Karan dari New York, berpartisipasi dalam program donasi sekolah untuk 205 muridnya berasal dari Indonesia dan bersekolah gratis. Akhirnya pada tahun 2008 berdirilah sekolah internasional Green School, di atas lahan hutan 8 hektar, di kawasan Sibang Kaja, Bali.
Memasuki kompleks sekolahan yang asri, hutan desa yang yang rimbun dengan pepohonan, menyambut. Namun untuk sampai di bangunan sekolah, seluruh murid harus melalui Jembatan Minang yang melintasi sungai Ayung. Dinamakan Jembatan Minang karena atap jembatan ini mengadaptasi atap rumah adat Minangkabau. Konstruksi jembatan ini seluruhnya terbuat dari bambu.  Daerah di sisi seberang Jembatan Minang, merupakan kawasan utama sekolah. Di situ terdapat sawah milik sekolah dimana siwsa dan guru sering menanam padi bersama. Namun area belajar yang sesungguhnya baru ditemui setelah perjalanan melewati jalan setapak yang menanjak yaitu kelas-kelas tanpa dinding atau pun kaca, terlihat. Desain yang terbuka tersebut membuat para siswa yang sedang belajar merasakan desiran angin serta mendengar suara-suara alam seperti: kicauan burung,suara pepohonan yang bergesek, dan aliran air di sungai.

Sementara itu di level tertinggi dari kawasan, terdapat sebuah lapangan besar, sarana olahraga out door sekolah dan sebuah gymnasium. Terdapat pula sebuah bangunan dnegan tiga level: Heart of School (HOS). Ini adalah bangunan utama sekolah yang berfungsi sebagai tempat administrasi, ruang guru, ruang kepala sekolah, serta ruang-ruang penunjang lain seperti galeri seni kriya anak, ruang komputer dan lainnya.
Di level bawah, kita bisa melihat pilar-pilar bambu, menopang lantai-lantai di atasnya dalam susunan yang unik. Bila selama ini batang-batang bambu lekat dengan bangunan kotak dan sederhana, tidak demikian dengan bangunan Green School. Hampir semua bangunan yang ada di sini di desain melengkung. “There is no straightlines in nature.” Jelas Marny, salah satu senior architect PT. Bambu Bambu yang terlibat di proyek Green School ini. Sementara John hardy percaya bentuk kotak dan garis yang terlalu tegas akan mengurangi kreativitas yang dibutuhkan anak-anak selama belajar. Maka hasilnya adalah kelas-kelas berbentuk busur dengan bambu-bambu yang diikat secara melengkung sebagai penopang utama bangunan. Batang-batang bambu itu kemudian disambung dengan rangkaian bambu lainnya membentuk atap dengan ilalang di atasnya.  Hampir semua elemen bangunan Green School menggunakan material bambu, di antaranya pada: tiang, rangk atap, tangga, lantai atas dan lainnya. Bambu-bambu itu disambung dengan sistem pin dan baut. Namun tidak hanya konstruksi bangunan saja yang menggunakan bambu. Railing atau pagar pembatas, hingga furniture seperti kursi dan meja belajar pun dibuat dari bambu.

Bambu, merupakan tanaman yang mudah tumbuh. Hanya dalam jangka 4-5 tahun ketinggian bambu bisa mencapai 18 meter, sementara pohon lain membutuhkan waktu 25 tahun. Dengan demikian, termasuk material yang ramah lingkungan karena mudah dan cepat diperbaharui.  Kelas-kelas di Heart of School didesain sebagai bangunan dengan sistem yang terbuka. Artinya, angin dan cahaya matahari dapat masuk dengan maksimal ke dalam bangunan. Itu masih ditambah dengan sebuah skylight yang melingkar di puncak atap, sebagai sumber pencahayaan alami bagi ruang-ruang di bawahnya. Fasilitas lain di sekolah ini adalah Green Waroeng, yaitu kantin yang menjual makanan hasil olahan kebun di sekitar Green School.
Green School memang sebuah sekolah dengan konsep kembali ke alam. Namun upaya untuk bersahabat dengan lingkungan tak hanya diterapkan pada konteks fisika bangunan, pilihan material atau membiarkan pepohonan di sekitarnya tumbuh. Utilitas bangunan seperti listrik pun, direncanakan dengan sistem tersendiri, yaitu turbin yang digerakkan oleh air, yang dinamakan Vortex. Sedangkan penyediaan air bersih berasal dari sungai yang berada sekitar 40 m di bawah tanah, masih di dalam kawasan.

Sistem pembuangan air dari kamar mandi juga dibuat berbeda . Setiap toilet, baik untuk laki-laki maupun perempuan, memiliki dua sistem. Buang air kecil kloset, ditampung dan digunakan untuk menyiram bambu untuk digunakan sebagai pupuk tanaman nantinya.
Kawasan yang didesain tidak mencemari lingkungan ini diharapkan akan menghasilkan anak-anak yang selalu berfikir ‘green’ karena terbiasa dengan lingkungan yang asri.

SUMBER :

http://riza300394.blogspot.co.id/2015/11/kritik-arsitektur.html
 
http://muliatmiwahyu.blogspot.co.id/2014/01/tugas-kritik-arsitektur-kritik-normatif.html

Selasa, 31 Januari 2017

KRITIK ARSITEKTUR



DIA.LO.GUE ARTSPACE
Oleh
Wini Yulli Anisah



Langgam arsitektur modern, memiliki bentuk yang mendasar bagi setiap desain bangunan di setiap kota termasuk kota-kota di Indonesia. Gaya arsitektur yang serba kotak ,tak berdekorasi, per ulangan yang monoton sehingga mempunyai pandangan bahwa arsitektur adalah olah pikir dan bukan olah rasa ,serta permainan ruang bukan bentuk. Sehingga pada arsitektur modern menggunakan material untuk mengekspresikan space atau ruang.

Seperti pada Artspace yang terletak di Jl. Kemang Sel. No.99A, RT.1/RW.2, Bangka, Mampang Perapatan., Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12730, Indonesia. Yang berada pada jalan utama, dengan batasan site sebelah utara terdapat pemukiman padat, sebelah selatan terdapat Habibi Center , sebelah timur yaitu kantor gojek Kemang dan sebelah barat terdapat 7Eleven. 

Dia.Lo.Gue Artspace adalah art space tempat karya seni yang amat sangat beragam Melengkapi fungsi utamanya sebagai sebuah galeri, keberadaan cafe dan toko di Dia.Lo.gue menjadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Fungsi ruang memang diharapkan bisa menjadi ajang komunikasi dua arah. Pengunjung diberi kebebasan untuk berekspresi dan berdialog, dalam wadah ruang yang tersedia.

Ruang, menjadi tempat utama di art space ini untuk menuangkan beragam ekspresi seni. Desain ruang-ruang yang mengalir dengan koridor-koridor penghubung, mendukung beragam kegiatan di art space ini.

Kasual, homey, meneduhkan, merupakan ekspresi yang tertangkap dari Bangunan Dia.lo.gue, yang dikemas dalam arsitektur Modern tropis yang kuat. Dirancang oleh Arsitek Andra Matin, bangunan ini menampilkan penyatuan outdoor dan indoor, penciptaan void dan innercourt, banyak bukaan, serta plafon tinggi.

Sinar matahari pun bebas menyapa masuk ke dalam ruang dan menciptakan bayangan-bayangan yang menyejukkan.Kesan natural ditampilkan lewat dominasi material beton unfinished dan kayu pada penyelesaian ruang dalam, yang bersanding dengan perabot bangku dan meja kayu sederhana.Di bagian belakang, terdapat ruang pamer yang lapang dan plafon tinggi, dengan ekspos struktur baja dan kusen kayu yang begitu nampak natural, menampilkan kesan membumi. Kemasan arsitektural dan interiornya, terlihat hangat dengan ekspresi material dan lingkungan yang membentuk simfoni.Di halaman belakang dapat dijumpai hamparan rumput hijau yang luas, beberapa pohon rindang, serta kolam ikan berdesain simpel.

Sudut-sudut ruang termasuk ruang-ruang terbuka dimanfaatkan untuk menampilkan seni instalasi. Obyek pameran ditempatkan sebagai elemen estetika.

Pada Galeri ruangan dengan bentuk persegi panjang dan warna ruangan yang serba putih dengan di padukan lantai galeri yang dilapisi parket berwarna kayu  membuat langgam arsitektur modern pada Dia.Lo.Gue Artspace ini sangat terlihat.

Dia.Lo.Gue Artspace memiliki ruang-ruang yang terhubungan sangat baik karena bentuk-bentuk yang kotak sehingga membuat tidak adanya ruang mati pada sisi ruang yang ada. Seperti ruang serbaguna dan ruang galeri, dua ruangan ini terhubung dengan pemisahnya kaca sebagi materialnya. Lalu setiap sisi pada ruangan ini dapat digunakan, karena tidak adanya ruang mati.

Sirkulasi yang ada di dalam Dia.Lo.Gue Artspace sangat sederhana yaitu sirkulasi linear. Sirkulasi ini melewati ruang galeri, cafĂ© dalam dan ruang serbaguna. Sirkulasi ini juga yang memberikan pengalaman ruang yang terjadi di dalam Galeri Dia.Lo.Gue. Karena pada sirkulasi ini melewati 3 ruang pada 1 sirkulasi linear. 

Cahaya yang banyak masuk di dalam ruang-ruang Dia.Lo.Gue dikarenakan banyaknya bukaan-bukaan di ruang-ruang Dia.Lo.Gue Artspace sehingga membuat Dia.Lo.Gue Artspace cukup terang di siang hari. Selain itu juga penggunaan cahaya lampu yang hanya di gunakan pada malam hari saja. 

Kehadiran ruang publik di tengah padatnya Ibukota, diharapkan dapat menjadi inspirasi dan ruang gerak positif. Terlebih didukung suasana hening dan teduh, sesuai dengan konsep Zen yang diusung.