Selasa, 31 Januari 2017

KRITIK ARSITEKTUR



DIA.LO.GUE ARTSPACE
Oleh
Wini Yulli Anisah



Langgam arsitektur modern, memiliki bentuk yang mendasar bagi setiap desain bangunan di setiap kota termasuk kota-kota di Indonesia. Gaya arsitektur yang serba kotak ,tak berdekorasi, per ulangan yang monoton sehingga mempunyai pandangan bahwa arsitektur adalah olah pikir dan bukan olah rasa ,serta permainan ruang bukan bentuk. Sehingga pada arsitektur modern menggunakan material untuk mengekspresikan space atau ruang.

Seperti pada Artspace yang terletak di Jl. Kemang Sel. No.99A, RT.1/RW.2, Bangka, Mampang Perapatan., Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12730, Indonesia. Yang berada pada jalan utama, dengan batasan site sebelah utara terdapat pemukiman padat, sebelah selatan terdapat Habibi Center , sebelah timur yaitu kantor gojek Kemang dan sebelah barat terdapat 7Eleven. 

Dia.Lo.Gue Artspace adalah art space tempat karya seni yang amat sangat beragam Melengkapi fungsi utamanya sebagai sebuah galeri, keberadaan cafe dan toko di Dia.Lo.gue menjadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Fungsi ruang memang diharapkan bisa menjadi ajang komunikasi dua arah. Pengunjung diberi kebebasan untuk berekspresi dan berdialog, dalam wadah ruang yang tersedia.

Ruang, menjadi tempat utama di art space ini untuk menuangkan beragam ekspresi seni. Desain ruang-ruang yang mengalir dengan koridor-koridor penghubung, mendukung beragam kegiatan di art space ini.

Kasual, homey, meneduhkan, merupakan ekspresi yang tertangkap dari Bangunan Dia.lo.gue, yang dikemas dalam arsitektur Modern tropis yang kuat. Dirancang oleh Arsitek Andra Matin, bangunan ini menampilkan penyatuan outdoor dan indoor, penciptaan void dan innercourt, banyak bukaan, serta plafon tinggi.

Sinar matahari pun bebas menyapa masuk ke dalam ruang dan menciptakan bayangan-bayangan yang menyejukkan.Kesan natural ditampilkan lewat dominasi material beton unfinished dan kayu pada penyelesaian ruang dalam, yang bersanding dengan perabot bangku dan meja kayu sederhana.Di bagian belakang, terdapat ruang pamer yang lapang dan plafon tinggi, dengan ekspos struktur baja dan kusen kayu yang begitu nampak natural, menampilkan kesan membumi. Kemasan arsitektural dan interiornya, terlihat hangat dengan ekspresi material dan lingkungan yang membentuk simfoni.Di halaman belakang dapat dijumpai hamparan rumput hijau yang luas, beberapa pohon rindang, serta kolam ikan berdesain simpel.

Sudut-sudut ruang termasuk ruang-ruang terbuka dimanfaatkan untuk menampilkan seni instalasi. Obyek pameran ditempatkan sebagai elemen estetika.

Pada Galeri ruangan dengan bentuk persegi panjang dan warna ruangan yang serba putih dengan di padukan lantai galeri yang dilapisi parket berwarna kayu  membuat langgam arsitektur modern pada Dia.Lo.Gue Artspace ini sangat terlihat.

Dia.Lo.Gue Artspace memiliki ruang-ruang yang terhubungan sangat baik karena bentuk-bentuk yang kotak sehingga membuat tidak adanya ruang mati pada sisi ruang yang ada. Seperti ruang serbaguna dan ruang galeri, dua ruangan ini terhubung dengan pemisahnya kaca sebagi materialnya. Lalu setiap sisi pada ruangan ini dapat digunakan, karena tidak adanya ruang mati.

Sirkulasi yang ada di dalam Dia.Lo.Gue Artspace sangat sederhana yaitu sirkulasi linear. Sirkulasi ini melewati ruang galeri, cafĂ© dalam dan ruang serbaguna. Sirkulasi ini juga yang memberikan pengalaman ruang yang terjadi di dalam Galeri Dia.Lo.Gue. Karena pada sirkulasi ini melewati 3 ruang pada 1 sirkulasi linear. 

Cahaya yang banyak masuk di dalam ruang-ruang Dia.Lo.Gue dikarenakan banyaknya bukaan-bukaan di ruang-ruang Dia.Lo.Gue Artspace sehingga membuat Dia.Lo.Gue Artspace cukup terang di siang hari. Selain itu juga penggunaan cahaya lampu yang hanya di gunakan pada malam hari saja. 

Kehadiran ruang publik di tengah padatnya Ibukota, diharapkan dapat menjadi inspirasi dan ruang gerak positif. Terlebih didukung suasana hening dan teduh, sesuai dengan konsep Zen yang diusung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar