Lingkungan hidup yang serasi dan
seimbang sangat kita perlukan karena merupakan unsur penentu kehidupan bagi
manusia dan makluk hidup lainnya. Permasalahan dalam sistem perencanaan
pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, terkadang terkendala
oleh perencanaan pembangunan yang masih dipengaruhi oleh sistem politik,
kurangnya keterlibatan masayarakat, prinsip Bottom up dan Top Down yang tidak
berjalan dengan baik, serta banyak kalangan yang ingin mencari keuntungan
pribadi dan kelompok dalam perencanaan pembangunan tersebut. Sebagai contoh
saja dalam sistem perpolitikan saat ini, banyak politisi yang menarik simpati
dari masyarakat dengan membuat kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan
namun dibalik itu semua mereka sebenarnya sedang berjuang untuk kepentingan dan
mencari keuntungannya sendiri.
Perencanaan pembangunan yang haruslah memperhatikan lingkungan walaupun pada kenyataannya
lingkungan hidup di Kota besar sudah kurang memperhatikannya. Ideal dari
pemanfaatan lingkungan hidup untuk kehidupan di bumi ini haruslah memperhatikan
pemeliharaan dan kelestarian lingkungan sehingga dari tindakan tersebutlah,
kita dapat mewariskan sumberdaya alam kepada generasi yang akan datang.
Program-program yang telah
dilaksanakan oleh pemerintah kota dalam menghijaukan Kota haruslah konsisten
dan berkesinambungan antara program satu dengan program yang lainnya. Sehingga
dari usaha yang dilakukan terciptalah pembangunan Kota yang berkelanjutan.
Setiap program yang telah dicanangkan dan direncanakan haruslah sesuai dengan
konsep pembangunan yang mempunyai tujuan; a). dapat tercapainya keselarasan,
keserasian dan kesimbangan antara manusia dan lingkungan hidup. b). dapat
terwujud sumberdaya manusia Kota Jayapura sebagai insan lingkungan hidup yang
memiliki sikap dan tindakan melindungi serta membina lingkungan hidup. c).
dapat menjamin kepentingan dari generasi masa kini dan generasi masa yang akan
datang, dan d). dapat tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Kondisi yang terjadi di Kota besar adalah
meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan peningkatan berbagai kebutuhan, mulai
dari pangan, sandang, maupun pemukiman. Sehingga dibutuhkan juga sumber daya
alam lainnya seperti tanah, air, energi, mineral, dan lainnya yang diambil dari
persediaan sumber daya alam di wilayah tersebut. Semula kehidupan manusia di
bumi dikuasai oleh alam, namun dengan munculnya etika Barat lahirlah sistem
nilai yang hakikatnya memandang bahwa manusialah yang menguasai dan menjadi
pusat (antroposentris).Persoalan yang mendasar adalah telah terjadi kegiatan
eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan sehingga menyebabkan
kerusakan-kerusakan serta menipisnya sumber daya alam, bahkan sisa-sisa
pengolahan berbagai barang akhirnya menimbulkan bencana bagi kehidupan manusia.
Dari kegiatan tersebut dapat kita rasakan akibatnya dimana terjadi bencana
lingkungan akibat pencemaran dan kerusakan sumber daya alam seperti, banjir di
wilayah- wilayah tertentu.
Walaupun pembangunan kita perlukan
untuk mengatasi banyak kendala, termasuk masalah lingkungan, namun pengalaman
menunjukkan, pembangunan dapat menimbulkan dampak negatif. Beberapa contoh
tentang dampak negatif pembangunan antara lain, pertama banyak pembangunan
pengembangan sumber daya air telah menimbulkan masalah kesehatan. Masalah itu
timbul karena pembangunan tersebut telah menciptakan habitat baru atau
memperbaiki habitat yang ada bagi berbagai vektor penyakit, antara lain :
banyak jenis nyamuk yang menjadi vektor penyakit malaria, demam berdarah,
enchepalis, filariasis, lalat yang menjadi vektor penyakit tidur dan buta
(onchociasis), serta siput yang menjadi vektor biltharziasis. Kedua pencemaran
udara karena semakin meningkatnya jumlah kendaraan roda dua maupun roda empat,
seperti terdapat di kota besar, seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan
Medan.
Bank Dunia memperkirakan untuk
Jakarta saja pencemaran udara telah menyebabkan kerugian terhadap kesehatan
yang untuk tahun 2013 diperkirakan sebesar US$ 1 milliar. Ketiga, pencemaran
oleh limbah industri makin banyak diberikan di banyak daerah. Kerusakan tata
guna lahan dan tata air seperti yang terjadi di daerah Puncak dan Lembang
Provinsi Jawa Barat adalah contoh lain. Karena kerusakan tata guna lahan dan
tata air tersebut, laju erosi dan frekuensi banjir meningkat. Di Jakarta dan
Bandung banjir sudah rutin mengalami banjir saat musim hujan tiba.
Dengan adanya dampak negatif
tersebut, yang tidak memperhatikan faktor lingkungan pada saat melakukan
pembangunan, sehingga penting menjadi perhatian Pemerintah dan masyarakatnya.
Pada satu pihak kita tidak boleh takut untuk melakukan pembangunan, karena
tanpa pembangunan kita akan tertinggal. Di pihak lain kita harus
memperhitungkan dampak negatif dan berusaha untuk menekannya menjadi
sekecil-kecilnya. Pembangunan itu harus berwawasan lingkungan, yaitu lingkungan
diperhatikan sejak mulai pembangunan itu direncanakan sampai pada waktu
pelaksanaannya. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development)
didefinisikan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhannya sekarang tanpa
mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan
mereka”.
Pembangunan berkelanjutan
mengandung arti, lingkungan dapat mendukung pembangunan dengan terus menerus
karena tidak habisnya sumber daya yang menjadi modal pembangunan. Modal itu
sebagian berupa modal buatan manusia, seperti ilmu dan teknologi, pabrik, dan
prasarana pembangunan. Lingkungan sosial budaya pun merupakan komponen penting
yang ikut menentukan pembangunan berkelanjutan, salah satunya ialah
kesenjangan. Tergusurnya pemukiman rakyat kecil oleh pembangunan dan hilangnya
hak adat dan hak mengolah atas tanah mereka, sedang mereka tidak dapat banyak
menikmati hasil pembangunan, merupakan salah satu sebab penting terjadinya
kesenjangan yang makin lebar dan kecemburuan sosial yang semakin meningkat
sehingga perlu kita waspadai dalam proses pembangunan.
Sumber : http://green.kompasiana.com